Tingkatkan Kesadaran Mahasiswa Tentang TOEFL Lab PBI UAD Gelar Workshop TOEFL

Laboratorium Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan workshop TOEFL (Test of English as a Foreign Language) bertajuk “Essential Tips and Techniques for Doing TOEFL Test” pada Jumat, 17 Januari 2025. Mahasiswa sangat menyambut baik dan sangat antusias mengikuti workshop ini. Kegiatan berlangsung di Lab Bahasa A, Lantai 7, Gedung Laboratorium Terpadu, Kampus 4, Universitas Ahmad Dahlan. Astry Fajria, S.S., M.Pd.B.I., selaku kepala laboratorium PBI membuka acara dengan menyambut para peserta dan memberikan pengantar tentang tujuan workshop serta gambaran umumnya. Selain itu, dia memperkenalkan pemateri, Bu Andi Idayani, MD, yang bekerja sebagai dosen di Universitas Islam Riau.

Workshop ini dimulai dengan peserta diminta untuk mengerjakan tes pre-test sebelum memasuki materi inti. Dalam sesi inti, Bu Andi Idayani menyampaikan materi tentang pengertian, tujuan dan manfaat test TOEFL. Bu Andi sebagai narasumber juga memberikan penjelasan mendalam mengenai bagian-bagian dalam tes TOEFL, yang diantaranya ada  listening, structure, dan reading. 

Setelah workshop berakhir, peserta mengikuti post-test untuk mengetahui seberapa baik mereka telah memahami materi yang disampaikan. Selain itu, sebelum penutupan, panitia memberikan kenang-kenangan kepada Bu Andi dan mengadakan sesi foto bersama untuk mengabadikan momen penting ini.

Tiga siswa yang beruntung juga menerima voucher tes TOEFL dari Laboratorium PBI UAD. Diharapkan dengan workshop ini mahasiswa PBI UAD dapat mengambil manfaat guna untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka dan mempersiapkan diri mereka untuk ujian TOEFL yang disyarat kan sebagai salah satu syarat ke lulusan. Diharapkan kegiatan seperti ini dapat dilakukan terus menerus untuk membantu siswa memperoleh keterampilan di masa depan.

Jihad Teknologi: Membangun Peradaban Islam di Era Digital

Di era digital ini, teknologi telah menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tahukah Anda bahwa menguasai teknologi juga bisa menjadi bagian dari ibadah? Islam mengajarkan umatnya untuk memanfaatkan ilmu dan teknologi demi kemaslahatan umat manusia. Hal ini sejalan dengan semangat Islam Berkemajuan yang menjadi landasan gerakan Muhammadiyah, sebuah organisasi pembaruan Islam yang terus relevan menghadapi tantangan zaman.

Landasan Islam dalam Teknologi

Islam secara tegas mendorong manusia untuk terus belajar dan menggali ilmu pengetahuan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
(“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” – QS. Al-‘Alaq: 1).

Ayat ini menegaskan pentingnya membaca, memahami, dan memanfaatkan ilmu. Rasulullah SAW juga bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). Dalam konteks modern, penguasaan teknologi adalah bentuk aktualisasi dari ajaran ini, di mana teknologi menjadi sarana untuk berkontribusi dalam kemajuan umat.

Muhammadiyah dan Teknologi

Sebagai organisasi Islam modern, Muhammadiyah mengambil langkah progresif dalam menguasai teknologi. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dikenal aktif dalam penelitian teknologi hijau untuk keberlanjutan lingkungan, sementara Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) telah mempelopori pengembangan kecerdasan buatan (AI) di tingkat nasional. Tidak kalah penting, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) juga menunjukkan kiprah signifikan dalam dunia teknologi dengan fokus pada pengembangan startup berbasis teknologi, penelitian robotika, dan penerapan Internet of Things (IoT) untuk solusi masyarakat. Keaktifan UAD dalam kompetisi internasional menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya adaptif, tetapi juga inovatif.

Teknologi untuk Dakwah dan Layanan Umat

Teknologi menawarkan peluang besar untuk menyebarkan dakwah Islam. Melalui media sosial, aplikasi Islami, dan platform digital seperti Muhammadiyah TV, nilai-nilai Islam dapat tersebar lebih luas dan efektif. Selain itu, Muhammadiyah juga memanfaatkan teknologi untuk layanan umat, seperti aplikasi berbasis AI untuk konsultasi kesehatan di RS PKU Muhammadiyah serta sistem daring yang mempermudah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah.

Etika dalam Penggunaan Teknologi

Namun, penguasaan teknologi harus dilandasi etika Islami. Allah berfirman:

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
(“Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” – QS. Al-Baqarah: 205).

Muhammadiyah menekankan pentingnya literasi digital agar teknologi tidak disalahgunakan untuk hal yang merusak, tetapi dimanfaatkan untuk kebaikan bersama.

Penutup

Menguasai teknologi adalah bagian dari jihad di masa kini. Dengan prinsip iman, ilmu, dan amal, Muhammadiyah mengajak umat Islam menjadi pelopor dalam pengembangan teknologi yang bermanfaat luas. Jadi, mari jadikan teknologi sebagai alat membangun peradaban Islam yang maju dan relevan. Inilah saatnya bagi kita untuk bergabung dalam jihad teknologi demi kemaslahatan umat dan dunia.

Penulis : Devanie Firananda . H.A

Pentingnya Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan untuk Generasi Muda

Pendidikan berperan penting dalam membentuk karakter dan kepribadian seseorang, terutama bagi generasi muda. Dalam Islam, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk memperoleh ilmu, tetapi juga sebagai cara untuk menanamkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Salah satu bentuk pendidikan Islam yang memiliki peran strategis adalah Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Pendidikan ini bertujuan untuk membentuk generasi muda yang memahami ajaran Islam dengan benar, memiliki akhlak yang baik, serta mampu menghadapi berbagai tantangan zaman dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.

Mengenal Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan

Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) adalah mata pelajaran atau bidang studi yang diajarkan di lingkungan Muhammadiyah, baik di sekolah, perguruan tinggi, maupun lembaga pendidikan lainnya yang berafiliasi dengan organisasi ini.

Komponen Utama AIK

Al-Islam – Memuat ajaran Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang bersifat tajdid (pembaruan) sesuai dengan manhaj Muhammadiyah.

Kemuhammadiyahan – Mempelajari sejarah, nilai-nilai perjuangan, ideologi, serta gerakan Muhammadiyah dalam membangun peradaban Islam yang berkemajuan.

Peran Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan bagi Generasi Muda

Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang berakhlak mulia, berwawasan luas, dan berkontribusi dalam membangun peradaban Islam yang berkemajuan. Berikut adalah beberapa peran utama AIK bagi generasi muda:

1. Menanamkan Pemahaman Islam yang Murni

AIK membantu generasi muda memahami ajaran Islam dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pembaruan sesuai dengan Muhammadiyah. Ini mencegah kesalahpahaman dan membentuk sikap beragama yang moderat serta terbuka.

2. Membentuk Karakter Islami

Melalui AIK, generasi muda diajarkan nilai-nilai akhlak mulia, seperti kejujuran, disiplin, kerja keras, dan kepedulian sosial, agar tumbuh menjadi individu yang berintegritas dan bertanggung jawab.

3. Mengenalkan Sejarah dan Perjuangan Muhammadiyah

AIK mengenalkan sejarah, visi, dan misi Muhammadiyah dalam dakwah dan pendidikan, sehingga generasi muda dapat memahami peran organisasi ini dalam membangun masyarakat Islam yang maju serta terdorong untuk melanjutkan perjuangannya.

4. Mendorong Semangat Dakwah dan Kepemimpinan

Generasi muda diharapkan untuk berperan aktif dalam berdakwah, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat, serta dilengkapi dengan keterampilan kepemimpinan yang berlandaskan ajaran Islam.

5. Mengembangkan Pola Pikir Kritis dan Kreatif

AIK mengajarkan Islam sebagai agama yang fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Hal ini mendorong generasi muda untuk berpikir secara kritis, kreatif, dan produktif di berbagai aspek kehidupan, sambil tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.

6. Memperkuat Rasa Kepedulian Sosial

AIK menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap sesama melalui semangat amar ma’ruf nahi munkar, gerakan filantropi, dan kepedulian sosial, sebagaimana yang dilakukan oleh Muhammadiyah dalam berbagai aksi kemanusiaan.

Dengan peran-peran tersebut, AIK menjadi fondasi penting dalam membangun generasi muda yang beriman, berilmu, dan beramal, serta siap menghadapi tantangan zaman dengan semangat Islam yang berkemajuan.

Penulis : Isnanisha Karlina UAD

Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di Era Digital: Peluang dan Tantangan

Era digital telah mengubah hampir semua aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang agama. Keberadaan teknologi informasi yang pesat, seperti internet, media sosial, dan aplikasi digital lainnya, memengaruhi cara umat Islam, khususnya yang terhubung dengan Muhammadiyah, menjalankan aktivitas keagamaan. Dalam konteks ini, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan menghadapi berbagai peluang dan tantangan yang perlu dimanfaatkan secara bijak untuk mendukung dakwah, pengajaran, dan amal sosial.

Peluang di Era Digital

  1. Penyebaran Dakwah yang Lebih Luas
    Salah satu keuntungan terbesar dari era digital adalah kemampuannya untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Melalui platform seperti YouTube, Instagram, Facebook, dan TikTok, pesan-pesan dakwah dapat disebarkan secara global dengan cepat. Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, memiliki kesempatan untuk memperkenalkan ajaran Islam yang moderat dan rahmatan lil alamin kepada khalayak yang lebih besar, baik di dalam maupun luar negeri.
  2. Akses ke Ilmu Pengetahuan Islam yang Lebih Mudah
    Digitalisasi telah mempermudah akses terhadap berbagai sumber ilmiah, termasuk literatur Islam, tafsir, hadis, hingga risalah-risalah pemikiran Muhammadiyah. Situs-situs web dan aplikasi yang menyediakan konten-konten keagamaan memungkinkan umat Islam untuk belajar lebih banyak mengenai ajaran Islam, baik secara formal maupun non-formal. Muhammadiyah dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam dengan menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif dan mudah diakses.
  3. Kolaborasi dan Penguatan Komunitas
    Dalam era digital, Muhammadiyah memiliki peluang untuk memperkuat solidaritas di kalangan anggotanya melalui grup diskusi online, webinar, dan acara virtual. Selain itu, platform-platform digital juga memungkinkan organisasi ini untuk berkolaborasi dengan berbagai lembaga Islam di dunia untuk mengembangkan proyek-proyek sosial yang bermanfaat, seperti bantuan kemanusiaan, pendidikan, dan kesehatan.

Tantangan di Era Digital

  1. Penyebaran Hoaks dan Informasi Sesat
    Salah satu tantangan besar dalam era digital adalah maraknya penyebaran informasi yang tidak benar (hoaks) yang dapat merusak pemahaman masyarakat tentang ajaran Islam yang sebenarnya. Media sosial yang tidak selalu terkontrol bisa menjadi sarana penyebaran berita palsu yang merugikan umat Islam. Muhammadiyah, dengan landasan akhlak yang baik, perlu mengambil peran aktif dalam menyebarkan informasi yang benar, serta memberikan klarifikasi terhadap isu-isu yang bisa menyesatkan.
  2. Kehilangan Keaslian dalam Dakwah
    Teknologi digital memungkinkan siapa saja untuk berbicara tentang Islam, namun terkadang hal ini menyebabkan informasi yang disampaikan tidak selalu sesuai dengan ajaran yang benar. Dalam hal ini, ada potensi penyebaran tafsir-tafsir yang sesat, atau pengajaran yang tidak sesuai dengan prinsip Islam yang moderat. Muhammadiyah perlu memastikan bahwa dakwah yang dilakukan tetap konsisten dengan ajaran Al-Qur’an dan hadis yang sahih, serta mengedepankan moderasi beragama.
  3. Keterbatasan Interaksi Sosial Langsung
    Meskipun teknologi digital memungkinkan komunikasi jarak jauh, namun tidak ada yang bisa menggantikan interaksi sosial langsung dalam kegiatan keagamaan. Banyak aktivitas dalam agama, seperti shalat berjamaah, kajian keislaman, dan silaturahmi, memiliki makna yang lebih dalam ketika dilakukan secara langsung. Muhammadiyah perlu berupaya menjaga keseimbangan antara memanfaatkan teknologi dan menjaga kualitas hubungan sosial antar sesama anggota.
  4. Kesenjangan Digital
    Tidak semua anggota masyarakat memiliki akses yang sama terhadap teknologi digital. Kesenjangan dalam hal akses ke internet dan perangkat digital masih menjadi masalah, terutama di daerah-daerah terpencil. Muhammadiyah perlu memperhatikan kesenjangan ini dengan menyediakan program-program pendidikan dan dakwah yang tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga mengutamakan pendekatan berbasis langsung di masyarakat.

Kesimpulan

Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di era digital memiliki banyak peluang untuk berkembang dan semakin relevan di tengah masyarakat modern. Namun, tantangan-tantangan yang muncul perlu dihadapi dengan bijak. Dengan memanfaatkan teknologi secara maksimal, sambil tetap menjaga prinsip-prinsip keislaman yang benar, Muhammadiyah dapat memainkan peran penting dalam menciptakan masyarakat yang berakhlak mulia dan berperadaban tinggi. Oleh karena itu, baik peluang maupun tantangan yang ada harus dijadikan momentum untuk memperkuat ajaran Islam yang damai, moderat, dan inklusif.

Penulis : Isnanisha Karlina UAD

Mengoptimalkan Penggunaan Khuf bagi Musafir: Panduan Praktis

Perjalanan ke luar negeri sering menjadi bagian dari aktivitas mahasiswa dan dosen, baik untuk studi lanjut, konferensi, maupun kolaborasi penelitian. Dalam Islam, ada kemudahan berupa penggunaan khuf bagi musafir, yang mempermudah pelaksanaan wudhu selama perjalanan.

Apa Itu Khuf?

Khuf adalah penutup kaki yang bisa diusap sebagai pengganti membasuh kaki saat berwudhu. Dengan menggunakan khuf, Anda tidak perlu melepas sepatu di tempat umum yang mungkin kurang nyaman atau bersih. Kemudahan ini adalah bentuk rukhsah, atau keringanan, dalam syariat Islam. Muhammadiyah juga menekankan pentingnya memahami konsep rukhsah sebagai bagian dari fleksibilitas Islam yang mendukung pelaksanaan ibadah di berbagai situasi.

Syarat dan Ketentuan

  1. Memakai Khuf dalam Keadaan Suci: Sebelum memakai khuf, pastikan kaki dalam keadaan suci setelah wudhu, sebagaimana disebut dalam hadis riwayat Muslim. Muhammadiyah mengajarkan bahwa menjaga kesucian adalah bagian integral dari ibadah yang tidak boleh diabaikan.
  2. Khuf Menutupi Mata Kaki: Khuf harus menutupi area kaki yang wajib dibasuh. Hal ini sejalan dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah yang selalu dijadikan rujukan utama dalam Muhammadiyah.
  3. Durasi Penggunaan: Untuk musafir, mengusap khuf diperbolehkan hingga tiga hari tiga malam (72 jam). Perhitungan dimulai sejak hadats pertama setelah memakai khuf.

Cara Mengusap Khuf

  1. Basahi tangan dengan air.
  2. Usap bagian atas khuf mulai dari jari hingga pergelangan kaki. Rasulullah SAW mempraktikkan hal ini, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Abu Dawud. Dalam pandangan Muhammadiyah, mengikuti sunnah Nabi SAW adalah landasan utama dalam beribadah.

Situasi yang Membatalkan

Pengusapan menjadi batal jika khuf dilepas, masa berlaku habis, atau terjadi hadats besar yang mewajibkan mandi. Muhammadiyah juga menekankan pentingnya memahami pembatal ibadah sebagai upaya menjaga kesucian dan keabsahan ibadah.

Manfaat dan Hikmah

Menggunakan khuf mencerminkan nilai-nilai kemudahan dan fleksibilitas dalam Islam. Allah SWT berfirman, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu” (QS. Al-Baqarah: 185). Praktik ini membantu menjaga kebersihan dan kenyamanan, terutama saat fasilitas wudhu terbatas. Muhammadiyah menggarisbawahi bahwa ajaran Islam selalu relevan dengan kebutuhan zaman, termasuk dalam memberikan kemudahan bagi musafir.

Tips Praktis

  1. Gunakan khuf yang nyaman dan sesuai syar’i.
  2. Catat waktu mulai mengusap untuk memastikan durasinya.
  3. Bawa khuf cadangan jika memungkinkan.

Dengan memahami dan mempraktikkan rukhsah ini, perjalanan tetap nyaman tanpa mengabaikan kewajiban ibadah. Muhammadiyah mengajak setiap Muslim untuk memanfaatkan keringanan ini sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Wallahu a’lam.
(df)

Penulis : Devanie Firananda .H.A., S.Pd. Universitas Ahmad Dahlan

Menjaga Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam: Solusi Holistik untuk Generasi Muda

Kesehatan mental kini menjadi topik yang semakin relevan, terutama di kalangan generasi muda. Menurut survei Indonesia – National Adolescent Mental Health Survey (I-HAMHS) pada tahun 2022, sebanyak 15,5 juta remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Dalam menghadapi tantangan ini, Islam menawarkan solusi holistik yang relevan dan aplikatif.

Perspektif Islam tentang Kesehatan Mental

Dalam Islam, kesehatan mental dipandang sebagai kemampuan individu untuk menjaga keseimbangan jiwa, pikiran, dan hubungan sosial. Ajaran Islam mengintegrasikan praktik-praktik spiritual untuk menjaga keseimbangan ini. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit atau rasa sakit, kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya” (HR. Bukhari dan Muslim). Konsep ini mendorong umat Islam untuk menghadapi ujian hidup dengan sabar dan tawakkul.

Praktik seperti zikir, doa, dan salat dapat menjadi bentuk “mindfulness” dalam Islam. Penelitian menunjukkan bahwa zikir dapat membantu menurunkan tingkat stres dan memberikan ketenangan batin. Selain itu, ayat Al-Qur’an dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28 menyatakan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ)

Peran Muhammadiyah dalam Mengatasi Masalah Kesehatan Mental

Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah turut berperan aktif dalam isu kesehatan mental. Muhammadiyah berupaya mengurangi stigma terhadap layanan kesehatan mental melalui edukasi masyarakat. Pandangan bahwa mengakses layanan kesehatan mental bukanlah aib terus dikampanyekan oleh organisasi ini.

Muhammadiyah juga menekankan pentingnya penguatan resiliensi, terutama di kalangan remaja. Ketahanan mental menjadi kunci bagi generasi muda untuk menghadapi tekanan hidup di era digital. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya,” (QS. Al-Baqarah: 286) (لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا) adalah prinsip yang sering disampaikan untuk menguatkan semangat kaum muda.

Islam dan Solusi Holistik

Islam menawarkan pendekatan integratif antara terapi modern dan spiritualitas. Contohnya, teknik Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dapat diselaraskan dengan nilai-nilai Islami seperti introspeksi diri dan peningkatan iman. Dengan ini, umat Muslim dapat mengatasi gangguan mental tanpa meninggalkan prinsip agama mereka.

Generasi muda perlu memahami bahwa menjaga kesehatan mental adalah bagian dari ibadah. Mengelola tekanan hidup melalui pendekatan Islami bukan hanya membantu menciptakan ketenangan batin, tetapi juga memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta. Dengan sinergi antara ajaran Islam dan dukungan komunitas seperti Muhammadiyah, generasi muda dapat menghadapi tantangan mental di era modern dengan lebih baik.

Penulis : Devanie Firananda .H.A., S.Pd. Universitas Ahmad Dahlan